 | Sugeng Rawuh.... | Mar 15, 2007 |
ahlan wa sahlan wa marhaban... "Ada saat-saat dalam hidup ketika kamu sangat merindukan seseorang sehingga ingin hati menjemputnya dari alam mimpi dan bersamanya dalam alam nyata. Semoga kamu memimpikan orang seperti itu." Malam yang merangkak semakin pekat, memaksaku untuk beranjak. Namun tak kutahu mengapa, masih enggan rasanya kaki ini bergerak, tak jua mau mata ini kupejamkan. Ada sebuah bayangan melintas di sudut bilik memoryku. Sosok nan lembut, halus… tersenyum manis. Ups…. Aku tersadar, bayang itu ternyata semakin menjauh, mulai hilang diterpa ketidakberdayaan. Bayang yang mulai menghilang di ujung lorong nan panjang. Aku berlari..mengejar bayang yang sempat kuimpikan. Langkah kakiku terhenti tiba-tiba. Di hadapanku berdiri dengan angkuh deretan pintu. Mereka seakan berkata, juga bertanya, apa yang kucari? apa yang kupinta? Sederet pertanyaan yang membuatku diam membisu, terpaku. Bahkan aku sendiripun tak tahu apakah aku mampu meraih apa yang kumau. Diapun makin menghilang, ditelan kebisuan…. Angin berbisik pelan di telingaku, membelai halus setiap syaraf, menyadarkanku, melemparkanku kembali ke dunia nyata. Aku masih berkubang dalam kebingungan, dalam kebekuan yang entah kapan tercairkan. Pintuku, kapan kau terbuka untukku, aku ingin mengejar bayangnya…menatap wajahnya…walau aku sadar, tak satu kuncipun kupunya…Namun aku yakin, aku mampu meraihnya, suatu hari…. Kini, kuketuk pintu perlahan, bersama harap dan impian. Jangan pernah mengucapkan selamat tinggal jika kamu masih mau mencoba Jangan pernah menyerah jika kamu masih merasa sanggup Jangan pernah mengatakan kamu tidak mencintainya lagi jika kamu masih tidak dapat melupakannya. Pilihan…bukan berarti menjadi kenyataan.. Aku tahu. Tapi aku kini hanya sedang berusaha... Untuk lalu kusandingkan dengan pilihan-Nya. Salahkah? Aku sadar, bahwa selama ini banyak yang bukan pilihanku. Tapi justru menjadi perjalanan hidup yang panjang. Jika masih diberi waktu untuk memilih kembali, Aku yakin tidak akan berada di tempat ini. Tetapi inilah pilihan-Nya. Sedang diri adalah masih hamba-Nya. Lemah. Akankah ku lari dari pilihan-Nya untukku? Tidak. Aku tau, tiada yang lebih sayang padaku.. Kecuali Dia. Akankah Dia memberiku sesuatu, Padahal tidak baik buatku? Aku percaya dengan segala pilihan-Nya Kini aku berusaha, bersama seuntai doa... Jika ini memang pilihan-Mu juga, mudahkanlah Namun jika bukan, maka jauhkan diriku darinya, Dan jauhkan dirinya dariku….. Lalu berilah hamba kekuatan, untuk bisa selalu bersyukur.. Atas pilihan-Mu yang telah kau gariskan untukku Dan curahkan selalu ya rabb...ridho-Mu atasku… Jika aku mencoba, maka itu pun kehendak-Nya. Kenapa harus kuucapkan selamat tinggal? Jika Dia masih memberiku kesanggupan, kenapa harus ada kata menyerah? Tapi jika dia sudah bisa melupakanku, mengapa harus kukatakan bahwa aku masih mencintainya? I dream a million dreams Only one I wish comes true You see, that wish With all my soul is just to be with you I wanted you as mine You stole my heart With such sweet words I swear my heart would cry I wish you were here To hold my hand Whenever I get lonely Or wrap a loving arm around me When the distance made me sad But for now I can only sit here And smile as we talk Because I know someday With all my heart That we will be together My love, I'm still here In the land of million dreams The land where I long for you In every breath I take Every second Every single time My Love, here we are It’s just me and you Still going’ strong Right here in the place where we belong And after all this time our time has come
My love, am I dreaming? It's still dark here The road is indeed long and exhausting But this must be the road to glory At the end of this road I'm sure that there will be a bright light لا تحسبوا أن حسن الخط يسعدني # ولا سماحة كفي حاتـــــــــم الطائي وإنما أنا محـــــــتاج بواحــــــــدة # لــنـــقـل نقـــطة الخاء إلى الطــــاء | 09 Bila Waktu Tlah Berakhir | | ISTIGHFAR | | O P I C K | | | Heartbeat | | Kal Ho Naa Ho | | Instrumental | | | 10 Instrumentalia Do'a Aku | | THE WAY OF LOVE | | HADDAD ALWI | |
Menatap langit biru berteman riak ombak berbuih putih, menjejak pasir lembut…hangatnya alam menyambut hari, seakan damai menjalani kodratnya, memuji dalam bahasa murni, bertasbih dalam sunyi. Apa makna hidup ini? Apakah sekedar berjalan lurus, pasrah dalam ketetapan, meniadakan cita, membunuh cinta, ataukah menata hati, memetakan jalan, merumuskan tujuan, walau berakhir pada suatu penghambaan? Alam menjadi teman setiaku yang selalu bisa mengingatkan akan kekerdilanku, yang terkadang terlampau sombong kuakui dan kuumumkan sebagai kelebihan. Alam menjadi guruku memujiNya, tanpa harus kuhadirkan butiran tasbih di antara jemariku, yang tak jarang malah kujadikan bahan pameran, seraya bangga kuberkata, "Inilah aku, ahli dzikir….". Alam jugalah yang membantuku menyejukkan pikiran, di kala egoku mengalahkan akal, kala suka menjadi bencana. Alam membuatku menyadari, dalam hidup haruslah ada tujuan, dalam hidup pastilah ada perputaran. Hanya saja , diri kita dihadapkan dua pilihan, maju, atau mundur? Buih putih di lautan bagaikan dosaku yang setiap saat muncul menodai. Sedangkan langit luas adalah ampunan dari Yang Maha Kasih. Membuatku terlena dan lupa, untuk selalu menghamba, memohon belas atas dosa hingga tak jarang aku berkata, "Tuhanku Maha Pengampun, maka dosaku pasti akan dihapusNya". Betapa angkuhnya diriku…. Hatiku mungkin telah mati, gersang tak berpenghuni, terkecuali para dewi yang menghadiri pesta kematiannya. Hatiku lama tak merasakan siraman hujan dari langit tujuh, yang mampu menumbuhkan tunas baru kehidupan. Hatiku hanya merasakan siraman racun yang kudapatkan dari roda kehidupan yang kujalankan tanpa tujuan. Kehidupan yang sering kuberi label "KEBEBASAN". Alam masih membelaiku dengan lembutnya tangan sang bayu, membisikkan seuntai kata, bahwa bagiku masih tersisa waktu, walaupun tiada yang tahu, dimana ujungnya. Mungkin esok nanti, tapi bisa jadi detik ini. Alam masih setia berjalan dalam kodratnya, memuji Sang Maha Pencipta. Kulangkahkan kaki kembali ke tanah berpasir. Aku ingin menghadirkan air sebening embun, air kehidupan hati, yang mampu menghilangkan dahaga, menghapus gersang, menumbuhkan tunas penghambaan dalam kodrat yang seharusnya kujalankan, tanpa kembali menoleh ke belakang, masa lalu yang kelam.  | UMMI | Nov 16, '07 4:11 AM for everyone |
Ummi, wajahmu tiba-tiba membentuk sebuah sketsa di mataku Ummi, senyummu nan menyejukkan hadir di kala lemahku Ummi, do'amu tak terbilang mengalun selalu untukku Ummi, teringat telaga di wajahmu, teduh terasa Ummi, teringat anak sungai di pipimu karenaku, rasa berdosa Ummi, teringat butir keringatmu, yang tak akan terbalas jua Ummi, teringat mutiara katamu, tiada waktu tanpa do'a Berharap, ananda selalu menjadi permata Ummi, kelembutanmu mengajariku cinta Kesabaranmu mengajariku keteguhan Ketegasanmu mengajariku kekuatan Untaian do'amu mengajariku cita dan harapan Ummi, nun jauh di sana engkau berada Di seberang samudera, terpisah benua Terentang waktu di antara kita Menunggu musim berganti untuk berjumpa Ummi, tiada kata yang bisa kuucap Tiada pula kata yang bisa kureka Tuk lukiskan cintamu Tuk mengukur panjang kasihmu Ummi, kala rindu ini mendera, menghentak dada Kala raut lembutmu tersketsa sempurna Kala kusadari aku tak akan bisa membalas jasa Hanya doa yang mampu kupersembahkan Sebagai balasan kasih sepanjang jalan Ummi, kurindu belaianmu Ummi, kuingin berjumpa denganmu Kala musim berganti, waktu terlampaui Membawa hadiah terindah Mengukir bulan di wajahmu Menjadi permata hati terbaik bagimu "Orang-orang yang paling berbahagia tidak selalu memiliki hal-hal terbaik, mereka hanya berusaha menjadikan yang terbaik dari setiap hal yang hadir dalam hidupnya". (Lagi kangen ngomah…..)  | ANTRI | Nov 16, '07 4:06 AM for everyone |
Saat tangisku membelah cakrawala, aku disambut gembira Saat mata ini ku buka, aku melihat indahnya dunia Saat lidah ini belajar mengeja, bahagia membuncah di dada Kala tapak menjejak tanah, ku melangkah tanpa lelah Kala kumulai berlari, seakan kaki tak mau berhenti Masa yang terlampau, menemaniku mengenal dua warna berbeda Hitam, Putih Masa juga yang mengajakku ke dua lembah berlawan Pahala, Dosa Aku bukan lagi selembar kertas putih Tanpa tulisan, bersih dari coret-moret nan hitam BUkan pula air yang jernih Tanpa aliran keruh menghias sisi-sisi perjalananku Semua baru aku sadari, baru aku mengerti, kala ia mengetuk pintu hati Kau mungkin bertanya, siapa dia Dia, hanyalah sebuah kata Yang tersampaikan lewat keranda Kau mungkin bertanya, mengapa keranda Ya, karena dia adalah perantara Yang membuatku sadar JIkalau aku kini berada dalam sebuah antrian panjang Aku sendiri bahkan tak tahu, juga tak berani memastikan BIla giliranku akan datang Keranda itu sekarang sering kulihat Terusung tangan-tangan yang pemiliknya sama denganku Berada dalam antrian Keranda itu sering lewat Seakan mengingatkanku akan kepastian Yang tak mungkin kutemukan persembunyian Keranda itu dekat Seperti sapaan maut yang siap menjemput Antri Hanya itu yang terpatri dalam benakku kini Menanti Harus cepat kusadari apa yang sudah kumiliki Karena ku tak tahu apa yang akan terjadi Mati Bila ia kan kujumpai dalam pasti "Waktu kamu lahir, kamu menangis dan orang-orang disekelilingmu tersenyum Jalanilah hidupmu sehingga pada waktu kamu meninggal, kamu tersenyum dan orang-orang disekelilingmu menangis." (memory keranda) Satu lagi pengalaman baru yang Aci dapet, sebagai anak rantau J. Di Mesir, di bulan Ramadhan ternyata selain berburu pahala n buka puasa alias maidaturrahman, ada juga perburuan yang lain yang tak kalah seru dan lumayan menguras tenaga plus profesionalitas, :P Profesionalitas di sini mencakup ketajaman indera pendengar (buat nangkep informasi), pandai memilih (punya prioritas), n pandai memanfaatkan kesempatan. Sepertinya, ini udah bukan rahasia lagi di antara kita (ehm..!). Aci, kamu, kita semua pasti tahu, kalau perburuan yang satu itu adalah….. treng treng treng……jrenggg!!!! Berburu Musa'adah…..!! Oke, meskipun baru satu pengalaman nguber musa'adah, tapi gak dapet..(kacian dech Aci) tapi dah cukup untuk membuat Aci tahu dan mengerti, betapa Musa'adah menjadi salah satu idola Masisir. Siapa to yang ndak pengen dapet uang saku berlebih? Walaupun mungkin jumlahnya nggak seberapa, lumayan bisa buat nambah anggaran jajan, ato buat nambal kebutuhan. Terus terang, Aci sendiri merasa sedikit ogah untuk nyari, ngikut nguber makhluk yang bernama Musa'adah. Selain karena nggak mau capek-capek lari sono-sini, ngantri, de el el, Aci kadang suka mikir, ada nggak sih yang lebih butuh dari Aci? Ato juga kadang suka nanya (pada diri sendiri juga), Aci berhak nggak sich buat nerima, sedangkan mungkin, (bukannya takabbur lho ya..) apa yang Aci punya saat ini udah cukup untuk membuat Aci merasa bersyukur. Kembali lagi ke pengalaman Aci nguber Musa'adah, awalnya Aci memang gak ada niat buat ikutan hunting bareng yang lain, tapi karena kebetulan banyak temen, ya udah, ngikut…. Hehe… But, Aci saat itu nggak sempet bawa paspor yang konon menjadi kunci pembuka pintu Musa'adah. Jadi, katanya no paspor, no Musa'adah. Aci cuma bawa karneh (KARtu mahasiswi NEH, J) dalam tas. Dorongan dari temen-temen, sempat membuat Aci optimis bakal dapet rizqi di siang bolong, sekalian pengen tahu rasanya, gimana to orang nyari musa'adah? Sampai di tempat yang dituju (gak usah ditulis ya tempatnya mana, Aci yakin, banyak yang tahu kok…) ada beberapa temen putri yang sudah ngambil bagian antri duluan di lantai atas. Sedangkan temen-temen putra masih pada di bawah, nunggu giliran. Ladies first gitu… Tapi Aci lihat, temen-temen masih pada adem ayem, nggak ada yang dipanggil, maju ke depan, dan akhirnya pulang dengan senyum terkembang membawa sedikit tambahan uang di tangan. Usut punya usut, sang lembaran pound belum diantar. Jadilah kita menunggu, melatih kesabaran.Waktu yang ada kita gunakan buat nulis nama-nama kita, nomor paspor, status, sebagai syarat sah diterimanya bantuan. Tak lama, si lembaran pound yang ditunggu-tunggu datang lewat tangan 'Ammu. Setelah beberapa temen mengambil haknya secara sah dan legal, hehe.. tibalah giliran nama Aci. Dag dig dug, Aci maju dengan berbekal karneh. Dengan polos Aci berterus terang, "Paspor fil bayt". Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, begitu Ammu menjawab, "Mafisy paspor fil bayt!". Pupus sudah harapan Aci. Kesel, sedih, malu, capek, seneng jadi satu. Campur aduk…Kesel, karena Aci pikir, toh karneh juga bisa mbuktiin kalo kita anak kuliahan, orang asing yang di rantau orang… L walaupun memang, belum bisa membuktikan secara konkret masa iqamah kita di Cairo. Sedih, gak dapet uang jajan J. Malu, dah dilihat banyak orang, eh…ternyata terpaksa pulang dengan tangan hampa, ditolak pula, hiks..hiks… Capek, bolak-balik naik tramco n jalan kaki (Aci paginya udah puter-puter nyari tempatnya, gak ketemu juga). Seneng (aneh gak?) because…Aci udah dapet satu pengalaman baru, yang bisa dijadikan bahan pemikiran, bahan tulisan, buat curhat ke teman J. Semua rasa yang bercampur aduk membuat Aci mengambil satu kesimpulan, dapet or tidak, itulah yang namanya rizqi. Kalau memang udah ditakdirkan jadi rizqi kita, buat apa repot? Tenang aja, pasti dapet, lewat jalan manapun, bahkan bisa jadi lewat jalan yang tidak kita duga, "min haitsu laa yahtasib". Sebaliknya, kalau memang bukan rizqi, sejauh manapun kita mengejar, secapek dan segondok apapun hati kita, ya nggak bakalan dapet. Betul tidak??? J Dan kesimpulan yang kini menjadi keyakinan buat Aci, terbukti kebenarannya tak sampai satu jam setelah itu. Dengan hati yang warna-warni, campur aduk, kaki pegel-pegel, Aci berangkat ke acara buka bersama. "Udahlah, memang belum rizqi..", Aci menghibur diri sendiri. Nggak ada yang hibur sich… L. Eh..pucuk dicinta, ulam pun tiba. Begitu menginjakkan kaki di tempat acara, Aci langsung dipanggil ke depan, nerima rizqi, langsung! To the point! Tanpa paspor, tanpa karneh, tanpa identitas apapun…. Alhamdulillah…seketika Aci ingat kata-katanya Al Banna, kira-kira begini, "Aku yakin, rizqiku tak akan diambil orang, karenanya hatiku tenang". Duh…jadi pengen malu sama diri sendiri, yang merasa tamak, yang matanya kadang berubah jadi ijo…hehe..mirip-mirip buto ijo :P Anyway, by the way busway, hehehe… J. Satu pengalaman baru, mengajarkan Aci pelajaran baru, nggak cuma satu, tapi lebih dari itu. Lebih dalem lagi (laut kali :P), Aci kembali teringat satu lirik lagu lama, "Tak kan mampu kau hitung, nikmat yang Allah berikan" yang membuat Aci lebih malu, karena sering menginterpretasikan (apaan ya artinya?) nikmat or rizqi dengan hal-hal dhahiri, jadi terkesan Aci menganut paham materialisme J. Padahal nikmat or rizqi tak selalu berbentuk kepuasan materi, namun juga kepuasan hati. Juga tak selalu berbentuk bilangan, bisa juga berwujud lain. Dapet tempat duduk dalam bis misalnya, itu juga rizqi yang lumayan lho…apalagi kesehatan yang bisa kita nikmati sekarang. Nggak ada bandingan dech! Makanya, Aci jadi dobel malu, saat melintas satu ayat dalam ingatan. "Fa bi ayyi âlâ'i Rabbikumâ tukadzibân…". Aci tersadar, begitu banyak Aci menafikan nikmat, rizqi yang telah dilimpahkan, terkalahkan oleh keegoisan, serta mata yang tertutup dunia yang berkilauan. Rabbi, ampuni hamba…. (akhir Ramadhan) Pernah ada yang bertanya pada Aci, "apa sih maksudnya aci? Itu kan artinya tepung?Trus Syauqie, apaan tuh?" Aci cuma tersenyum manis J . Kalau tidak salah, sering Aci dengar orang-orang ngomong, "Apalah arti sebuah nama". Nyontek kata-katanya om Shakespeare. Tapi buat Aci, nama itu bisa jadi sebuah do'a. Betul ga? Jadi kalo ada yang ngomong or nanya apa artinya nama Aci, Aci akan dengan bangga dan hati penuh do'a menjawabnya begini, "Aci kalo dalam bahasa Sunda artinya emang tepung (bener ga?oi….yang urang sunda, bener ga nih?) tepung kanlembut, jadi Aci pengen punya hati selembut tepung. Hehehe…kalo bisa kulit selembut en seputih tepung juga :p Trus…Syauqie, kalo Aci artiin secara bebas, kerinduan. Coz Aci pengen jadi some one yang selalu dirindukan semua orang karena kelembutannya. Cieee…! Gitchu… So, buat siapa ja yang pernah mengenal Aci, boleh ga Aci nitip secuil do'a, ga banyak-banyak koq…secuil do'a semoga Aci bisa jadi seperti apa yang Aci cita-citakan selama ini. To be Aci El-Syauqie, si lembut hati yang selalu dirindukan semua orang. Amien… J Dulu, jauh-jauh hari sebelum diriku bertemu dengannya, aku pernah berangan-angan untuk full moon bersamanya. Ga cuma full day, apalagi full house, nggak banget! Dulu juga, sewaktu dia sudah mendekatiku (ehm!) aku semakin bersemangat menservice penampilanku. Tiap hari bolak-balik ngaca, intropeksi diri, sambil nanya diri sendiri, "Dah siap belum sich aku menyambutnya?" Kemudian, saat dia sangat dekat plus mulai terlihat, aku semakin deg-deg plash… Aku tambah semangat, memompa kepercayaan diri, dengan kata-kata ini.."Bismillah, I can do it!" (copy paste punya orang J) Saat dia ada di hadapanku, aku tersenyum walau hati nggak karuan, rasanya campur aduk, maniez…asem..asin…rame rasanya! Lalu aku bersamanya melewati detik demi detik yang bagiku terasa begitu berharga. Aku berjanji, tak akan kusia-siakan kedatangannya, karena aku tak tahu, apakah aku akan bertemu dengannya kembali. Tak lama, aku terjatuh, aku menduakannya! Aku rasa, dia pasti kecewa…Aku tak menepati janjiku untuk mengisi hari dengannya, tanpa pihak ketiga. Aku mengaku salah, aku tak bisa menjadikannya actor tunggal dalam langkahku. Padahal dia begitu baik padaku. Mengabaikan semua kesalahanku, kekuranganku, bahkan dia mencurahkan semua kebaikan yang dia miliki untukku. Dia tak sendiri, ternyata sang mega pagi turut berduka melihatnya terluka. "Bangun!", kata sang Mega. "Kenapa tak lagi kau baca surat-surat cinta yang penuh pesona?", Mega masih bertanya. Dan Mega pun harus bernasib sama dengannya, menelan pil kecewa, saat aku membuka mata bersama teriknya surya. Sekarang, waktuku bersamanya hanya tersisa sedikit saja. Sebentar lagi dia akan pergi, membawa sejuta kebaikannya. Aku pesimis…miris..dan itu semakin membuat hatiku gerimis… Ingin aku berkata, ucapkan kata perpisahan terindah, di sisa masa paling berharga yang kami punya. Namun lidahku kelu, hatiku serasa beku, badankupun kaku. Dia lalu berbisik pelan…"Bersihkan hatimu sayang…Hilangkan noda hitam yang makin tebal, yakinlah..kau bisa melakukannya, kau mampu meraihnya, di waktu-waktu terakhir kita bersama. Jangan pula kau bersedih akan perpisahan kita, karena aku akan datang kembali, menjemput segala cinta dan kerinduan yang akan kau persembahkan, dengan wajah dan hatimu yang semakin bersinar cemerlang, jika kau masih bisa menghirup udara, merasakan segala kenikmatan, tahun depan…." Aku tergugu..semakin pilu… BIP, akhir Ramadhan. Come on friend, make u'r Ramadhan to be the most Precious Time in u'r life…! Pucuk dicinta, ulampun tiba. Mungkin begitulah kira-kira ungkapan yang tepat dari Masisir untuk memaknai rizqi di bulan Ramadhan. Sebagai "orang baru" di Mesir, saya sebelumnya tidak begitu "ngeh" dengan datangnya bulan penuh berkah di negeri ini. Bahkan pertama kali yang muncul di benak saya adalah berbagai pikiran negative tentang betapa menderitanya puasa jauh dari orang-orang tersayang, khas pikiran anak kecil yang baru belajar hidup jauh dari keluarga. Namun lama kelamaan pikiran itu terkikis dengan maraknya kegiatan Masisir menyambut bulan khusus full diskon ampunan kali ini. Apalagi melihat adanya fenomena menarik, langka plus unik yang jarang saya temui di kampung asal saya. Apa gerangan? Buka bersama gratis…. Memang, di manapun di penjuru Cairo nan eksotis, banyak tenda darurat yang menyediakan makanan berbuka maganan alias tanpa bayar sepeserpun. Mulai dari pinggiran jalan, masjid, sampai Stadion Cairo pun selalu ramai menjelang waktu berbuka. Berbeda dengan yang saya jumpai di Indonesia, yang kebanyakan menyediakan acara buka bersama adalah masjid-masjid, bukan perorangan seperti di sini. Mungkin di bulan Ramadhan ini, para muhsinin Mesir semakin terketuk untuk banyak bershadaqah, terutama memberi makanan berbuka, supaya mendapatkan pahala yang sama dengan jumlah orang yang berbuka sesuai dengan janji Allah dalam salah satu hadits Rasulullah SAW. Tak pelak, moment seperti ini tidak dilewatkan begitu saja oleh Masisir. Walaupun makanan yang disediakan adalah makanan yang diolah ala Mesir, namun tak mengurangi minat Masisir untuk mendatangi tempat-tempat tersebut. Sebut saja mahattah akhir sabi', Sarag Mall, Wonderland, bahkan di rumah-rumah syekh akan kita dapati rizki berbuka. Atau kalau Masisir ingin memanjakan diri dengan menu-menu Indonesian, terdapat berbagai pilihan acara buka bersama yang diadakan kekeluargaan, almamater, afiliatif dan senat. Pada umumnya mereka berhasil menarik anggotanya dengan iming-iming buka bersama yang dibungkus dengan kajian, diskusi santai seputar Ramadhan atau seputar masalah-masalah yang sedang in dengan menghadirkan para tokoh professional di bidangnya. Makanan yang disajikan pun beragam, mulai dari makanan dan minuman ringan, sampai menu berat berupa nasi lengkap dengan macam lauknya. Memang, acara buka bersama seakan tak pernah larut termakan zaman. Setiap hari pasti ada saja informasi yang mampir ke telinga, mana saja yang mengadakan buka bersama hari itu. Sempat muncul guyonan dari beberapa teman sewaktu ingin berbuka bersama di rumah salah satu Bapak pejabat KBRI, "Sudah..liat aja jadwal di rumah beliau, kapan ada waktu kosong, kita maju!". Saya hanya bisa tersenyum maniez.. J Makanan, bagai umpan empuk bagi ikan. Saya tidak bermaksud menyamakan Masisir dengan ikan, karena saya sendiri bagian tak terpisahkan dari mereka. Tapi anggap saja ini sebuah pengibaratan. Karena siapapun tak bisa menyangkal, bahkan mungkin berharap, setiap hari akan ada rezeki untuk sekedar mengisi perut saat berbuka. Semakin banyak informasi tempat berbuka, akan semakin meringankan biaya konsumsi yang harus dikeluarkan dari kocek sendiri. Vice versa, tentu saja hal ini harus diimbangi dengan sedikit pengorbanan, entah itu ongkos kendaraan, jalan kaki ke tempat berbuka, mengantri, atau bagi yang kurang suka dengan acara-acara diskusi atau kajian, mau tidak mau harus hadir demi mendapatkan menu berbuka yang jarang didapati di rumah sendiri. Tapi motif yang mendasari Masisir berburu acara buka bersama tentu tidak sama, mengingat betapa heterogennya Masisir sendiri. Ada yang sekedar coba-coba, hitung-hitung sekalian safari Ramadhan (ternyata bukan Tarawih saja yang safari), ada juga yang benar-benar ingin mendapatkan ilmu, masalah dapat buka bersama atau tidak, itu prioritas selanjutnya. Ujung dari semua itu, apapun motifnya, apapun bungkus acaranya, ada satu kesamaan yang bisa saya lihat, that we'll never say good bye. ADA POC…. Bayangan putih itu melintas. Gelapnya malam semakin membuatnya terlihat semakin jelas. Ternyata ia kian mendekat, mendekat… "UWA…!!!!" "HIY…!!!" "Aduh… da pa sih? Siang-siang begini pake jerit-jerit segala. Mana kenceng lagi!" gerutuku panjang pendek. Sebel! "Idih, mbak Ita ini lho.. gak tahu ada film serem apa? Coba kalo mbak lihat sendiri. Tuh! Tuuh…syerem..liat dech! Betul kan?" Atin adikku menjawab dengan semangat empat lima. "Iya, betul Tin! Coba mbak Ita di samping kita. Pasti juga ikut teriak…bener dech mbak, syuerem…suer!" Uki, adik sepupuku menimpali, tak lupa dua jari tangan terangkat ke atas. Suer man…. "Suer, suer… kamu itu. Makanya, justru yang kaya gitu tuh yang ngerusak mental kalian. Jadi penakut kan? Coba, paling juga ntar malem gak berani ke kamar mandi sendirian." "Ye..si mbak. Siapa bilang? Kita tetep pemberani kok mbak… Ya gak Tin?" Uki menoleh ke Atin. "Heeh!"Atin mengangguk mantap. "Lagian, ini kan menambah pengetahuan mbak. Kita jadi tahu, kalo di sekitar kita tuh, gak cuma kita aja yang nempatin, gak kita juga yang hidup di sini. Ada yang laen gitu loh.." "Yakin…? Ya udah, kita liat ya ntar malem..? berani terima tantangan mbak?" aku masih gak mau kalah. "Siapa takut? Berani kan Ki, terima tantangan mbak kita yang cantik menawan ini?" Atin sok pede. "Ok! kita terima Tin!" "Ya udah, kita lihat ya adik-adikku nan manis juga rupawan…" kalem kututup "diskusi" kecil kami. Aku kembali melangkah ke kamar, membuka kembali bukuku, sambil kuputar nasyid terbaru kiriman teman dari Mesir. Maa lii Rabbun Siwaah… Gleng gleng..gleng gleng…! Jam antik ruang tengah menunjukkan pukul setengah empat pagi ketika kudengar pintu kamarku diketuk. "Mbak…mbak Ita…" Aku yakin itu suara Atin. Seperti orang ketakutan… "Mbak dah bangun kan mbak…? Keluar bentar donk mbak…" kalo yang ini, pasti si Uki. Aku keluar dengan memakai mukena. Baru selesai nitipin orang-orang yang selalu menyayangiku pada-Nya. Kubuka pintu… "UWA..!!" spontan mereka berdua menjerit. "Heh! Kalian ini, gak siang, gak malam, hobby banget jerit-jerit?" "Yah, mbak Ita. Lagian, mbak Ita sih.. kayak poc…" "Idih Uki! Udah ah. Mbak, anterin kita donk ke kamar mandi, kebelet pipis…" wajah adikku terlihat memelas. Tak tahan ku tersenyum..semakin lebar… "Jadi, para jagoan pemberani dah ngaku kalah nih?" godaku. "Gak kok mbak, kita tetep pemberani. Cuma, kita lagi pengen ditemeni mbak ja…" Uki ngeyel. "Ya mbak ya? Ayolah mbak…mbak manis, cakep, pinter, sholehah lagi…" adikku mengeluarkan jurus rayuan mautnya. Atin memang jagonya. "Ya mbak, kasian tuh si Atin, nahan pipis dari tadi…ntar malah ngompol di sini kalo gak cepet-cepet.." Uki menarik tanganku. "Iya…aduh..jangan narik-narik Ki.. mbak bisa jalan sendiri.." tak urung aku ngedumel. "Tapi habis ini, kalian harus sholat dulu. Paling tidak, dapet 2 ato 4 raka’at. Ocle? Kalo gak mau, mbak balik ke kamar lagi." "Mbak Ita pasti gitu deh… senengnya maksa. Pake ngancem lagi..awas lo.. Atin bilangin umi kalo ntar kalo dah pulang…" mulut Atin mengerucut. "Itu kan masih minggu depan?" jawabku. Memang, orangtua kami sedang menjenguk nenek. Seminggu lagi baru pulang. Karena itulah, Uki diminta Abi tidur di rumah kami. Biar tambah temen. Pagi ini cerah, aku melekuk-lekukkan tubuh di halaman samping mengikuti irama lagu dari radio. Tu, wa, tu, wa…. "Mbak…." Kepala Atin nongol di pintu. Aku menoleh tanpa menghentikan gerakan senamku. Sok pro…hehe… "Mbak ada acara gak hari ini?" "Tumben nanya. Biasanya kamu kan gak ngeh ma mbak. Da angin apa adikku sayang..?" kuusap keringat yang mulai menetes. "Gak da apa-apa. Emang salah ya kalo adik pingin tahu kegiatan kakaknya?" adikku mengelak. "Tentu tidak…" kutirukan salah satu iklan. Kuhentikan senam. Cukup untuk hari ini. Segar….Fresh! "Cuma mbak ngerasa agak aneh aja. Apalagi sejak kemaren siang, habis kamu nonton film horror itu sama Uki, kamu jadi kelihatan gelisah. Kayak takut dikejar sesuatu.." aku duduk di kursi. Atin ikut duduk di sampingku. "Ya..gimana ya mbak. Sebenarnya gak takut. Tapi, gak tahu juga, kok rasanya was-was terus ya?" Atin menerawang…pandangannya beredar di taman, dan..jatuh dengan sempurna di kuntum mawar…hehe… "Was-was itu sodaranya takut non.." aku tergelak. Sejak dulu , Atin selalu tak mau kalah jika berdebat denganku. "Mbak, sarapan dulu yuk, Uki buat nasi goreng special. Namanya Nasi Goreng Just for U…." tahu-tahu Uki sudah ada di depanku. "Mbak gak bakal nolak untuk yang satu ini…"aku tersenyum. Kugamit tangan adikku masuk. Nasi goreng Uki memang jempolan. Biarpun cowok, tapi masakannya enak, bahkan nasi goreng buatanku pun lewat… Konon, dia berguru pada sang ayah yang jago masak. Ayahnya pernah punya usaha rumah makan waktu kuliah di Mesir. Joinan ma abi. Cowok Mesir jago masak semua, kata abi waktu itu. Jadi pengin…. Pengin bisa masak maksudnya sodara-sodara… "Mbak Ita gak punya acara ke mana-mana kan hari ini?" Nah..! sekarang kalimat interrogative itu keluar dari mulut Uki. "Da pa sih sebenarnya? Kalian kok seperti menyembunyikan sesuatu dari mbak?" pandanganku menyelidik. "IH..mbak ini. Kan udah Atin bilang, GAK-A-DA, A-PA-A-PA."Atin berusaha meyakinkanku. "I have the sixth sense my little one… I know you…" aku kembali menyuapkan sesendok nasi. "Ya udah, kalo tahu, ngapain nanya?" Uki mengangguk-angguk tanda setuju. Mulutnya asyik mengunyah nasi. Ehm… "Trus, kalo punya indra ke enem, harusnya juga tahu, kalo kita lagi tak…" kalimat Atin terputus. Ia merasa telah salah bicara. "Hihihi…" tak kuasa aku tahan ketawa. Ternyata bener to….lagi takut… "Tuh kan, kalian udah TER-KON-TA-MI-NA-SI FI-LEM HO-ROR!"gantian kueja satu persatu my words. Skak! Aku tersenyum penuh kemenangan. "Tapi mbak, ini bukan sepenuhnya kesalahan kita. Kita kan penasaran mbak, Abisnya, orang-orang pada ngomongin tu film. Di internet juga ada. Kan kita jadi pengen liat…" Atin meneguk minuman. "Eh, memang seperti itu yang namanya promosi. Ya gencar begitu, biar film produksinya laku. Tapi, gak da salahnya kalo kita menerapkan seleksi alias sensor dari diri kita sendiri. Film apa yang harusnya kita lihat, dan film yang berbentuk gimana yang gak layak tayang di depan kita.." kuhela nafas. Nasiku seret, makan sambil ngomong sih..kebiasaan buruk. Kuambil air, glek glek..alhamdulillah… lancar lagi. "Namanya anak muda kan emang darahnya lagi menggelora mbak. Wajarlah, kalo kita penasaran." Uki nyambung. "Deu…yang ngerasa jadi anak muda… Ya Ki, emang, gak ada salahnya juga penasaran, gak dosa juga. Sekarang mbak tanya dech. Kalian dapet apa coba habis nonton film begituan? Dapet pengetahuan kalo di sekitar kita ada makhluk laen?" aku teringat diskusiku dengan mereka kemarin. Mereka tercenung. "Memang, dari situ kita jadi sadar, ternyata ada "dia", juga temen-temennya di sekeliling kita. Tapi itu berapa persennya? Sisanya, yang ada perasaan was-was. Ya kayak yang kamu rasakan itu Tin." Kupandang Atin. "Kalo yang nonton itu memang orang yang bukan setipe kalian, mudah terkontaminasi kayak gini, Oke ja. Dia gak takut. Biarpun ada efek samping, Cuma kecil, dia bisa ngatasin. Lha kalo yang nonton anak muda tipe kalian begini? Efeknya ya gede. Sampe siang bolong begini minta ditemenin…" Aku kembali tersenyum… I’ll win the debate.. "Tapi mbak, itu paling cuma sebentar.. bentar lagi kita juga gak takut kok.." duh, adikku benar-benar keras kepala..tekad baja… "Eng…tapi ada benarnya juga sih Tin, aku emang bener-bener ngerasa kalo itu tuh..si poc-poc putih ngikutin kita terus. Jadi kayak kita yang maen film…jadi artisnya gitu…" Yee…si Uki, ada ada saja. "Gimana sih kamu Ki! Kok jadi kontra ama Atin? Kita kan sehati selalu…sampai nanti.."gantian puitisnya Atin kumat. "Udah..udah… gitu aja kok repot. Biarin aja Tin, tiap kepala kan ada isinya, dan udah biasa kalo isinya berbeda..Mbak cuma mo ngingetin aja. Kalo nonton begitu, efek negatifnya buat orang-orang kayak kamu itu lebih besar. Tanpa perlu mbak sebutin, pasti kamu sudah ngerasa. Ya kan?" "Iya sih mbak, Atin juga sebenernya malu, dah kelas 1 SMU masih minta dianter ke kamar mandi. Udah gitu, minta ditemenin juga siang-siang di rumah.." Atin mesem. "Aku juga Tin.." Uki ikut ngaku. "Itu baru salah satunya. Lainnya, karena kita takut pergi ke mana-mana, ujung-ujungnya kita males sholat malem..mending tutupan,ngeringkuk di bawah selimut." "Mbak Ita cerdas! Kok tahu sih mbak?" Uki mengacungkan dua jempol tangan. "Tahulah…" orang aku dulu juga begitu…hehe…kalimat itu berlanjut di hatiku. Malu lah… "Intinya, boleh nonton seperti itu, asal kita mampu menahan efek sampingnya. Kalo gak, ya lebih baik gak usah. Trus, perbanyak dzikir juga, biar dikuatin. Gimana?" "Agree!!!" serentak mereka berdua mengacungkan tangan. "Sekarang, kita gak takut lagi. Berkat mbakku cayang, nan cantik menawan, pintar…" "Sssst.. udah! Sekarang mbak mau mandi" kuhentikan romantisan ala Atin. Aku beranjak, sambil membawa piring kotor ke dapur. Habis makan kucuci piring, habis nyuci, kumakan lagi….hehe… Hem… malam ini aku ingin menamatkan buku ekonomi Islamku di ruang tengah. UTS dah dekat.. Sedia payung sebelum hujan. "Lho, mau nonton lagi?" aku heran, melihat Atin, juga Uki bersiap di depan TV, dengan film yang sama dengan kemarin. "Tenang mbak, sekarang kita lebih PE-DE. Ini kan yang kedua kali. Gak bakalan ngaruh…"seru adikku. "Ya mbak, gak ngefek…liat ja nanti. Oke Tin?" "YUP! Kita gak bakal minta dianter ke kamar mandi or minta ditemenin lagi.YAQIN!!" Aku tersenyum.Tapi… "Mbak…mbak Ita… anterin ke kamar mandi lagi mbak, kita mau pis..kebelet..mbak…" Keningku berkerut, jam setengah empat pagi. Duh adik-adikku….aku tersenyum masam. EPISODE TRAGEDY Kemaren, baru aku sadari bahwa diriku terlampau jauh berjalan bersamamu. Sadar atau tidak, aku pun tak tahu . Yang aku tahu, kau telah membawaku pergi ke dunia yang sama sekali baru bagiku. Tapi kadang ada sebentuk Tanya dalam hati, dirimu yang telah membawaku, ataukah diri ini yang terlena, rela ikut bersamamu??? Kembali pikiranku mengembara di putaran masa yang telah berlalu lama, saat aku belum mengenalmu. Bahkan, tak pernah kubayangkan bahwa nasib akan membuat kita bertemu. Saat itu, aku begitu menikmati hari-hari, indah, paling tidak itu menurutku, dengan sederet jadwal yang monoton. Tapi tak apa, itu sudah cukup membuat hatiku adem ayem. No disturbing….setiap hari masih bisa kunikmati mentari pagi yang malu-malu mengintip dari jendela kamarku, bersama dinginnya hawa yang terkadang menusuk kulit. Itu semua bahkan aku nikmati dengan buncahan rasa bahagia. Tiba-tiba kau muncul di hadapanku..bahkan tanpa perasaan kau rampas matahariku, matahari kehidupanku. Kau tawarkan aku janji manis, yang sekarang kurasakan bagai sebuah candu mematikan. Hingga kini, aku seakan tak bisa menawarkan racun candumu!! Aku ingin lepas darimu, aku ingin kembali seperti dulu, menikmati detik demi detik bahagiaku, tanpamu. Dulu, aku berpikir bahwa kau bisa memberikan warna baru dalam hidupku, tapi apa yang kudapati sekarang? Tak lebih dari bahagia semu tak berujung. Aku tahu, kau tak akan biarkan aku lepas semudah itu. Karena kau tahu, kini akulah yang selalu mendatangimu, membutuhkanmu, kala gelisah tak jua pergi dari kisi-kisi hidupku. Jujur, pikiran nakalku masih menginginkan perjalanan yang panjang, melangkah bersamamu. Tapi tak bisa kupungkiri, kau tak lebih dari parasit yang menggerogoti. Tak kudapati sebuah simbiosis mutualism, namun parasitism yang semakin menjadi-jadi…! Mungkin kau akan berkata dalam diammu, tersenyum mengejek dan menertawakan kebodohanku selama ini, bahkan mungkin kau meyakini, bahwa aku tak akan pernah sanggup untuk lari dan kembali. Ya, kau akan berkata dalam diam, karena hanya itu yang selama ini kau lakukan. Tapi, aku tak akan patah arang, aku kan berusaha, walau dalam kehinaan yang terus kau hadiahkan sepanjang perjalanan. Aku kan berusaha mendapatkan setitik keindahan yang masih tersisa, setitik bening yang belum kau rampas adanya. Karena aku ingin kembali, tanpamu, melupakanmu, dan tak ingin lagi mengingatmu. Biarlah itu menjadi sepenggal kisah pahit hidupku, episode tragedy dalam sinetron panjangku. Biarlah… Satu kisah episode kuselesaikan dalam penyesalan dalam, dengannya aku berjanji, tak akan kuulang langkahku bersamamu dalam film baru kehidupan panjang. Malam pertama..kerinduan ini begitu memuncak, mendobrak pertahanan air mata... CENGENG! mungkinitulah kata yang tepat kutujukan pada diriku. Malam itu, aku benar2 ingin pergi dari hiruk pikuk yang menjadi teman akrabku setiap hari. Sok sibuk! padahal, kalau benar2 kutanyakan pada diriku, tidak ada kepuasan yang kuperoleh. Hampa. Batin ini terasa benar2 kosong.. tanpa ruh. Jasad tak bernyawa. Jujur, aku merindukan suasana syahdu, kesejukan yang meresap dalam kalbu, tanpa tedeng aling.. tanpa perseteruan yang seakan tanpa batas. Aku capek..!!! lelah dengan segala kemunafikan. Lelah dengan segala permusuhan, peperangan dalam diam. Aku ingin lepas.... Dan akhirnya, kulabuhkan lelah hatiku dalam sebentuk aliran sungai yang semakin menderas.. diantara dingin malam, di masjid Al-Azhar. Adakah dia yang kurindukan merasakan hal yang sama..??? Makhluk halus itu bernama Wanita [edisi revisi] A’uudzu billahi minasy syaithanir rajiim Bismillaahir Rahmanir Rahiim Berurusan dengan makhluk halus, lelembut, atau dedemit mungkin bukan hal yang sama sekali baru buat saya. He he, ini bukan berarti saya dukun professional, lho. Ya, bisa dibilang sekedar pernah ada sedikit pengalaman dengan golongan mereka seperti jin, genderuwo, atau penunggu rumah. Dan alhamdulillaah, saya masih selamat. Maklum, saya cuma berurusan dengan kelas awam dari golongan mereka. Namun, ada satu jenis makhlus halus dan lembut yang bahkan hingga saat ini pun saya kewalahan mencoba memahaminya. Bahkan, ketika saya berusaha menulis topik ini, butuh waktu satu hingga dua malam lebih untuk merenungkan dan meriset hakikat dari makhluk Allah yang halus nan lembut ini. Ya, makhluk halus nan lembut itu bernama wanita. Mohon maaf jika sebagai ilustrasi awal tulisan ini, saya mengenang masa lalu saya dengan makhlus halus beneran (alias jin). Tentu saja makhluk halus yang bernama wanita ini, masih segolongan dengan kita, manusia. Sekalipun demikian, satu hal yang sama yang mungkin dapat saya tarik dari pengalaman saya berinteraksi dengan kedua jenis makhluk halus ini: ketidaktahuan akan karakter dan sifat mereka seringkali membuat gesekan atau konflik antara kita dengan mereka. Khususnya ini saya hadapi sebagai seorang laki-laki ketika mesti berinteraksi dan bergaul dengan makhlus halus jenis kedua, wanita. Ibu kita, Sayyidah Hawa’ ‘alaihassalam, adalah wanita pertama yang Allah SWT ciptakan. Allah SWT ciptakan wanita pertama dari manusia pertama, ayah kita, Sayyidina Adam ‘alaihissalam. Dalam hakikatnya, Adam bukanlah manusia pertama. Benar, Memang Adam a.s. -lah manusia pertama yang diciptakan dengan fisik yang Allah SWT bentuk dari tanah liat dengan kasih-Nya. Tapi, hakikat manusia yang sejati adalah apa yang berada dalam dirinya, Ruh. Dan ruh pertama yang Allah SWT ciptakan (bahkan ciptaan pertama) adalah ruh Nabi kita, Sayyidina Muhammad sall-Allahu ‘alaihi wasallam, atau disebut pula Nur Muhammad [1] Dan untuk apakah Allah SWT ciptakan makhluq, yang Ia awali dengan penciptaan Cahaya Muhammad (SAW)? Dalam suatu hadits Qudsi, Ia SWT berfirman, “Kuntu kanzan makhfiyyan, fa-ahbabtu an u’raf, fakhalaqtu al-khalq” “Aku adalah suatu ‘Harta’ tersembunyi, dan Aku ingin untuk dikenali, maka Ku-ciptakan makhluq”. Artinya, Allah SWT menciptakan makhluq karena kecintaan-Nya pada Diri-Nya, dan Ia SWT memanifestasikan kecintaan-Nya pada Diri-Nya tersebut dengan menciptakan makhluq agar mereka belajar mengenali-Nya, mencintai-Nya, mengabdi dan menyembah-Nya dengan cinta, yang pada hakikatnya adalah cinta-Nya pada mereka, dan pada hakikatnya lagi adalah kecintaan-Nya pada Diri-Nya sendiri. Karena itulah, setiap makhluq, dari level terkecil hingga terbesar dan tersempurna (manusia) tak lain dan tak bukan adalah manifestasi atribut dan nama suci-Nya. Khususnya pada manusia, lebih-lebih Ia berikan cinta tertinggi-Nya dengan mengaruniakan sesuatu dari Diri-Nya sendiri, seperti dapat kita simak dari ayat di QS. 15:29, “Fa-idzaa sawwaituhuu wa nafakhtu fiihi min ruuhii wa qo-’uu lahuu saajidiin”, “Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya (bentuk fisiknya), dan telah meniup kan kedalamnya ruh-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud”. Kita tidak bermaksud membahas lebih dalam maksud “ruh-Ku” di sini [2]. Yang jelas, Ia ciptakan manusia dan memberikan kehormatan bagi manusia dengan ’sesuatu’ dari-Nya. Dan Ia lakukan ini dengan cinta dan kasih-Nya, dengan Rahman dan Rahiim-Nya. Adalah wajar, jika kemudian Quran dimulai dengan Bismillaahir Rahmanir Rahiim; kemudian dilanjutkan dengan pujian Allah bagi diri-Nya oleh diri-Nya (Alhamdulillahi Rabbil ‘Aalamiin); dan kemudian dilanjutkan lagi dengan menyebut sifat Pemurah dan Penyayang-Nya (Ar-Rahman Ar-Rahiim). Dan sang Manusia Pertama yang merepresentasi seluruh ciptaan, Ruh Muhammad (SAW), adalah Penerima dari Kasih Sayang Ilahiah itu. Inilah maksud dari ayat QS. 21:107 “Wa maa arsalnaaka illaa rahmatan lil-’aalaamiin” “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. Sayyidina Muhammad (SAW) adalah Marhuum (yang menerima rahmat itu), dan sekaligus menjadi mediator Rahmat bagi seluruh alam, karena Allah SWT menciptakan manusia (bahkan makhluq) lain dari ruh beliau. Seluruh makhluq berenang dalam samudera Cinta Allah lewat Rahmatan lil-’alamin sayyidina Muhammad SAW. Fiuuuh. Bingung? Istirahat dulu. Tarik nafas sambil senyum Jika dan ketika Jika kau merasa lelah dan tak berdaya dari usaha yang seperti sia sia.. Allah tahu betapa keras engkau sudah berusaha. Ketika kau sudah menangis sekian lama dan hatimu masih terasa pedih.. Allah sudah menghitung air matamu.
Jika kau fikir bahwa hidupmu sedang menunggu sesuatu dan waktu terasa berlalu begitu saja.. Allah sedang menunggu bersama samamu. Ketika kau merasa sendirian dan teman temanmu terlalu sibuk untuk menghubungimu.. Allah senantiasa berada disampingmu. Ketika kau fikir kau sudah berusaha sesungguhnya dan tidak tahu hendak berbuat apa lagi.. Allah mempunyai jawabannya. Ketika segalanya menjadi sesuatu yang tidak masuk akal dan kau merasa tertekan.. Allah bersamamu untuk menenangkanmu. Jika tiba tiba kau dapat melihat jejak jejak harapan.. sebenarnya Allah sedang berbisik kepadamu. Ketika segala sesuatu berjalan lancar dan kau merasa ingin mengucap syukur.. Allah telah pun memberkatimu. Ketika sesuatu yang indah terjadi dan kau dipenuhi ketakjuban.. Allah akan tersenyum padamu. Ketika kau memiliki tujuan untuk dipenuhi dan mimpi untuk digenapi.. Allah sudah membuka matamu dan memanggilmu dengan namamu. Oleh itu ingatlah.. dimana pun kau berada.. Allah akan mengetahui dan senantiasa berada disampingmu.. [disadur dari berbagai sumber] Bila Aku Jatuh Cinta II Ya Allah, jika aku jatuh cinta, cintakanlah aku pada seseorang yang melabuhkan cintanya pada-Mu, agar bertambah kekuatan ku untuk mencintai-Mu.
Ya Muhaimin, jika aku jatuh cinta, jagalah cintaku padanya agar tidak melebihi cintaku pada-Mu Ya Allah, jika aku jatuh hati, izinkanlah aku menyentuh hati seseorang yang hatinya tertaut pada-Mu, agar tidak terjatuh aku dalam jurang cinta semu. Ya Rabbana, jika aku jatuh hati, jagalah hatiku padanya agar tidak berpaling pada hati-Mu. Ya Rabbul Izzati, jika aku rindu, rindukanlah aku pada seseorang yang merindui syahid di jalan-Mu. Ya Allah, jika aku rindu, jagalah rinduku padanya agar tidak lalai aku merindukan syurga-Mu. Ya Allah, jika aku menikmati cinta kekasih-Mu, janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya bermunajat di sepertiga malam terakhirmu. Ya Allah, jika aku jatuh hati pada kekasih-Mu, jangan biarkan aku tertatih dan terjatuh dalam perjalanan panjang menyeru manusia kepada-Mu. Ya Allah, jika Kau halalkan aku merindui kekasih-Mu, jangan biarkan aku melampaui batas sehingga melupakan aku pada cinta hakiki dan rindu abadi hanya kepada-Mu. Ya Allah Engaku mengetahui bahawa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu, telah berjumpa pada taat pada-Mu, telah bersatu dalam dakwah pada-MU, telah berpadu dalam membela syariat-Mu. Kukuhkanlah Ya Allah ikatannya. Kekalkanlah cintanya. Tunjukilah jalan-jalannya. Penuhilah hati-hati ini dengan Nur-Mu yang tiada pernah pudar. Lapangkanlah dada-dada kami dengna limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal di jalan-Mu. (As-Syahid Syed Qutb) Bila Aku Jatuh Cinta I Allahu Rabbi aku minta izin Bila suatu saat aku jatuh cinta Jangan biarkan cinta untuk-Mu berkurang Hingga membuat lalai akan adanya Engkau
Allahu Rabbi Aku punya pinta Bila suatu saat aku jatuh cinta Penuhilah hatiku dengan bilangan cinta-Mu yang tak terbatas Biar rasaku pada-Mu tetap utuh Allahu Rabbi Izinkanlah bila suatu saat aku jatuh cinta Pilihkan untukku seseorang yang hatinya penuh dengan kasih-Mu dan membuatku semakin mengagumi-Mu Allahu Rabbi Bila suatu saat aku jatuh hati Pertemukanlah kami Berilah kami kesempatan untuk lebih mendekati cinta-Mu Allahu Rabbi Pintaku terakhir adalah seandainya kujatuh hati Jangan pernah Kau palingkan wajah-Mu dariku Anugerahkanlah aku cinta-Mu… Cinta yang tak pernah pupus oleh waktu Amiin. (Abu Aufa) Untuk sahabat-sahabatku yang telah mengejar cinta untuk memperoleh Ridho-Nya.(’iffah) bagus untuk perenungan... :)  | Nasyid | Aug 30, '07 4:54 AM for everyone |
| 09 Bila Waktu Tlah Berakhir | | ISTIGHFAR | | O P I C K | |
Jika Anda pernah menuntut ilmu di pesantren, tradisional maupun modern, atau bahkan berguru di berbagai perguruan tinggi Islam seperti Universtias Islam Negeri (UIN) Jakarta, Anda pasti mengenal Kamus al-Munjid.
Sebuah kamus yang dianggap paling lengkap dan komperehensif, antara lain karena dihiasi dengan gambar-gambar, yang dijadikan kamus utama di berbagai kampus Islam dan pondok pesantren seluruh dunia.
Bahkan di beberapa pondok pesantren seperti Ponpes Darunnajah Ulu Jami Jakarta, ada satu mata pelajaran khusus untuk menggunakan Kamus al-Munjid yang disebut Mata Pelajaran Fathul Munjid.
Namun tahukah Anda, bahwa Kamus Arab al-Munjid yang dipakai di seluruh ponpes dan kampus Islam dunia itu ternyata disusun oleh dua orang pendeta (rahib) Katolik bernama Fr. Louis Ma'luf al-Yassu'i dan Fr. Bernard Tottel al-Yassu'i yang dicetak, diterbitkan, dan didistribusikan oleh sebuah percetakan Katolik sejak tahun 1908.
Penggunaan Kamus al-Munjid yang sudah lama dan masih dipakai hingga kini bukanlah tanpa penentangan. Sebagian ulama menganggap kamus tersebut merupakan bagian dari operasi para orientalis yang memiliki agenda tersembunyi terhadap Dunia Islam.
Sekurangnya ada dua kitab yang ditulis ulama Islam yang berisi penentangan terhadap Kamus al-Munjid, yakni: ?`Atsrat al-Munjid fi al-adab wal ulum wa a'lam (Prof. Ibrahim al- Qhatthan, 664 halaman, terbit 1392 H), ini adalah kitab paling utama dalam mengkritisi Kamus al-Munjid. ?An-Naz'ah an-Nashraniyah fi Qamus al-Munjid (DR. Ibrahim Awwad, 50 hal, terbit 1411 H)
Kamus al-Munjid sendiri memiliki beberapa kekurangan, jika tidak dikatakan sebagai kesengajaan, yakni: ?Ketika memuat entry "Al-Qur'an", tidak pernah menyambungkannya dengan istilah "al-Kariem" dan sebagainya, namun ketika memuat entry kitab suci Kristen dan Yahudi, maka kamus ini menambahkan istilah "al-Muqaddas", ?Ketika memuat entry "Nabi Muhammad", tidak pernah mengikutsertakan gelar `Shalallahu Allaihi Wassalam", demikian pula entry para shahabat tidak pernah ditambahkan dengan "Radiyallahu Anhu", ?Tidak ada kalimat `Basmallah' di atas setiap bab seperti halnya kitab-kitab umat Islam, ?Entry "al-Basmallah" yang sesungguhnya milik umat Islam namun dalam keterangannya tertulis "Bismil ab-wal ibn wa Ruhil Quds" yang memiliki arti sebagai "Dengan menyebut Tuhan Bapak, Tuhan Anak, dan Ruh Kudus", setelah itu baru ada entry "Bismillahirahmannirahim", ?Kamus ini juga tidak membahas akidah Islam, namun banyak membahas hal-hal yang bersifat penyimpangan-penyimpangan akidah, ?Nama- nama tokoh Islam yang utama seperti para shahabat, tabiin, dan para ulama terkemuka juga tidak dimuat, namun di lain sisi nama- nama tokoh Barat Kristen banyak dimuat, ?Kamus ini tidak pernah merujuk pada sumber-sumber Islam yang asli, tapi sebaliknya merujuk pada sumber-sumber Barat, dan ini sangat jelas terlihat dalam entry `ibadat' dan penyebutan nama-nama nabi dan rasul yang menggunakan istilah kristen, ?Banyak kesalahan penulisan nama-nama tokoh dan kaitannya dengan sejarah, ?Mengatakan bahwa daging babi itu sangat lezat, ?Dimasukkannya gambar-gambar dan aneka lukisan yang berasal dari Barat yang sama sekali tidak berdasarkan kebenaran, seperti halnya gambar Nabi Isa dan nabi-nabi lainnya. Bahkan ada sebuah gambar sepasang manusia dewasa telanjang yang tengah menangis, gambar itu dikatakan sebagai gambar Adam dan Hawa, ?Nabi Nuh, Luth, dan Sulaiman dikatakan bukan sebagai nabi, tapi Lukman disebut sebagai nabi. Nuh dikatakan sebagai `Manusia Taurat pertama', Luth dikatakan hanya sebagai `keponakan Ibrahim' dan Sulaiman dikatakan sebagai `Raja' bukan nabi, ?Nabi Daud disebut sebagai pembunuh banyak lelaki untuk memperisteri jandanya, padahal beliau telah memiliki isteri sebanyak 100 orang.
Masih teramat banyak catatan-catatan tentang kamus produk orientalis ini yang sampai sekarang, entah kenapa, masih saja dipergunakan di banyak lembaga pendidikan Islam. Sudah saatnya umat Islam menyadari dan berhenti memakai kamus ini. Dan kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI), sudah sepatutnya melarang peredaran dan penggunaan kamus ini di seluruh Indonesia. (Rz)
Di sadur dari [http://www.eramuslim.com/news/tha/45eba78e.htm]
| |